Kamis, 19 Juni 2014

PENYAKIT MENINGITIS



Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
Jadi meningitis adalah suatu reksi keradangan yang mengenai satu atau semua apisan selaput yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang, yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa. Disebabkan oleh bakteri spesifik atau nonspesifik atau virus.

B.  ETIOLOGI
1.    Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa
2.    Faktor predisposisi : jenis kelamin, laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
3.    Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
4.    Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin, anak yang mendapat obat-obat imunosupresi.
5.    Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.

C. FAKTOR RISIKO
Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan meningitis, antara lain :
  1. Usia, banyak kasus meningitis terjadi pada usia dibawah 5 tahun.
  2. Beberapa pada lingkungan sosial dimana kontak sosial banyak berlangsung sehingga mempermudah penyebaran faktor penyebab meningitis, contohnya sekolah, kamp militer, kampus, dsb.
  3. Kehamilan. Jika sedang hamil, terjadi peningkatan listeriosis – infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jika memiliki listeriosis, maka janin dalam kandungan juga memiliki risiko yang sama.
  4. Bekerja dengan hewan ternak dimana juga dapat meningkatkan risiko listeria yang juga dapat meningkatkan risiko meningitis.
  5. Memiliki sistem imun yang lemah.
Laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan perempuan terutama pada periode neonatal. Angka kesakitan tertinggi setelah timbulnya meningitis mengenai anak-anak pada usia antara kelahiran sampai dengan empat tahun (dibawah lima tahun). Faktor maternal seperti ketuban pecah dini dan infeksi ibu hamil selama trimester akhir merupakan penyebab utama meningitis neonatal.
Terjadinya defisiensi pada mekanisme imun dan berkurnagnya aktivitas leukosit dapat mempengaruhi insiden pada bayi baru lahir, anak-anak dengan defisiensi imunoglobulin, dan anak-anak yang menerima obat-obatan imunosupresif. Menignitis yang muncul sebgaai perluasan dari infeksi-infeksi bakteri yang bervariasi kemungkinan disebabkan kurangnya resistensi terhadap berbagai organisme penyebab. Adanya kelainan SSP, prosedur/trauma bedah saraf, infeksi-infeksi primer dilain organ merupakan faktor-faktor yang dihubungkna dengan mudahnya terkena penyakit ini.
D. GAMBARAN EPIDEMIOLOGI
Meningitis di daerah Afrika sub-Sahara memiliki pola epidemiologis yang khusus. Daerah ini yang sering disebut juga sebagai meningitis belt meliputi kurang lebih 10 negara di antaranya adalah Burkina Faso, Ghana, Togo, Benin, Niger, Nigeria, Chad, Cameroon, Republik Afrika Tengah, dan Sudan. Di daerah ini, infeksi meningokok yang disebabkan oleh serogrup A timbul secara berulang setiap tahun sebagai suatu gelombang. Derajat serangan penyakit meningkat pada akhir musim kering dan secara cepat menurun setelah musim hujan mulai. Pada saat puncak terjadinya epidemi, insidens penyakit dapat mencapai 1000/100.000 penduduk.
Sejak akhir tahun 1960-an, terjadi epidemi yang luas yang disebabkan oleh galur-galur N. meningitidis yang secara genetik saling berkaitan erat. Wabah yang paling besar yang berasal dari Cina bagian utara dan meyebar ke selatan dan kemudian ke seluruh dunia, disebabkan oleh 2 jenis klon (clones) dari serogrup A yaitu subgrup I dan III). Klon Subgrup III menyebar ke subkontinen India pada tahun 1983 sampai 1987. Pada tahun 1987, klon ini mencapai daerah Timur Tengah, kemudian menyebar lebih jauh dan menimbulkan epidemi yang luas di jasirah Arab dan Afrika. Pada tahun 1990-an, wabah ini bergerak kebagian lebih selatan dari daerah tradisional meningitis belt sampai mencapai Afrika Selatan di tahun 1996. Pada tahun itu terdapat lebih dari 150.000 kasus dan sedikitnya 16.000 meninggal.
Di banyak negara maju, galur serogrup B bertahan selama lebih dari 30 tahun. Kebanyakan galur ini termasuk kompleks klonal yang dikenal sebagai ET-5 dan ET-37. Di bagian barat-laut Eropa (Norwegia, Inggris dan Belanda), infeksi hiperendemik dengan derajat serangan 4 sampai 50/100.000 bertahan sejak pertengahan tahun 1970-an, derajat serangan penyakit yang relatif tinggi dan persisten ini disebabkan oleh galur serogrup B yang termasuk ET-5. Galur ini beredar di antara penduduk setempat dengan transmisibilitas rendah tetapi derajat virulensinya tinggi. Galur grup B dengan karakteristik ET-5 ditemukan di Cina pada tahun 1974, dan pada tahun 1980-an juga di Jepang, Thailand, Spanyol, Cuba, Cili dan Brazilia. Pada tahun 1990-an galur ini menyebar ke Afrika Utara dan Australia. Di Amerika, kasus-kasus dilaporkan dijumpai pada imigran dari Kuba, tetapi berbeda dengan bagian barat-laut Eropa, di sini tidak terjadi wabah yang besar.
Pada saat dilaporkan terjadinya wabah oleh ET-5 di seluruh dunia, galur yang termasuk dalam klonal kompleks dari serogrup B yang lain (ET-24 dan ET-25) timbul di Eropa. Mula-mula ditemukan di Belanda pada tahun 1980-an, klon ini merupakan klon yang paling dominan menjelang akhir tahun 1990-an dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa.
Galur yang termasuk ET-37 menyebabkan wabah di antara personil militer di Amerika. Salah satu varian dari ET-37 yaitu ET-15 muncul pada akhir tahun 1980-an di Amerika Utara dan menyebabkan meningkatnya angka serangan infeksi meningokokal di daerah ini. Pada sebagian daerah di Amerika, serogrup Y, muncul sejak th 1990-an dan menjadi penyebab penting dari kasus-kasus endemis. Sekitar satu-per-tiga kasus-kasus di daerah tertentu di Amerika disebabkan oleh serogrup Y ini, sepertiganya lagi disebabkan oleh serogrup C dan sisanya oleh serogrup B.  Studi epidemiologis dengan metode molekuler telah menunjukan suatu gambaran yang kompleks mengenai kelompok klon meningokokal patogenik yang menyebabkan wabah yang menyebar ke seluruh dunia. Namun demikian, mekanisme dengan cara bagaimana klon yang patogenik ini menimbulkan epidemi secara luas di suatu daerah sedangkan daerah lain tidak terkenai, masih merupakan suatu pertanyaan .


E.

Pelayanan Rumah Sakit bagi Masyarakat Miskin ( Studi Kasus di Enam Wilayah Indonesia )



Abstrak

Pelayanan kepada pasien miskin yang diberikan secara berbeda masih sering terjadi.Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada masyarakat miskin dienam wilayah indonesia.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitiannya adalah masyarakat miskin yang sedang dan/atau pernah mendaptkan pelayanan kesehatan dirumah sakit di enam wilayah indonesia.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pasien miskin di rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta, umumnya memiliki tingkat kepuasan yang kurang memadai, diantaranya pada pelayanan administrasi yang dinilai rumit,berbelit,kurang informasi,petugas yang kurang ramah,tidak diberikan resep obat generik,dan pelayanan yang memakan waktu cukup lama.Selain itu,keharusan membayar uang muka juga menjadi penghalang bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Kata Kunci

Pelayanan rumah sakit , masyarakat miskin

Pendahuluan

Kualitas pelayanan di rumah sakit menjadi salah satu faktor penting dalam memenuhi hak masyarakat untuk kesehatan. Di sisi lain,kualitas pelayanan di rumah sakit tampil dengan fenomena yang unik,karena dimensi dan indikator yang berbeda antara orang-orang yang terlibat dalam pelayanan.Untuk mengatasi perbedaan tersebut,seharusnya digunakan pedoman dasar penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan.Mutu pelayanan terarah pada pelayanan kesehatan yang sempurna dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan setiap pasien.Dengan demikian,mutu pelayanan kesehatan adalah segala yang menunjukan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien.
Namun,sampai kini masalah penyalahgunaan hak konsumen pelayanan kesehatan di rumah sakit makin berkembang terjadi tanpa dirasakan oleh pihak rumah sakit,apalagi apabila konsumen tidak mengungkapkan keluhan secara formal.Meskipun tidak dipermasalahkan,penyalahgunaan hak ini pada dasarnya merupakan masalah.Penyimpangan yang terjadi secara terus menerus akan merusak berbagai upaya baik yang telah diupayakan dan mempengaruhi pandangan positif masyarakat.
Penyalahgunaan hak pasien di rumah sakit dapat terjadi karena ketidaktahuan,sikap dominan,beban kerja berlebihan dan faktor ekonomi.Dalam pelayanan profesional,ketidaktahuan menunjukan kelemahan proses menjadi profesi sampai interaksi dalam perhimpunan profesi.Pengaruh berbagai faktor lain yang lebih dominan seperti pengetahuan pasien pada hak konsumen yang kurang dapat membuat unsur ketidaktahuan tidak berarti.Faktor prefensi atau sikap dominan petugas terhadap pasien juga merupakan kelalaian profesional yang dapat menyebabkan pasien tidak puas.Beban kerja berlebihan faktor ekonomi dapat dipecahkan oleh manager rumah sakit denga perencanaan yang baik.
Penyalahgunaan hak pasien baru mendapat perhatian apabila ditemukan kekecewaan dan penyesalan terhadap pelayanan dari pasien atau keluarga mereka.Kasus pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mengadu kepada YLKI, pada periode 1991-1995 ( 19 orang ), periode januari-Desember 1996 ( 7 orang ),pada tahun 1997 melalui telepon ( 18 orang ).Pada tahun 2000, mengadu melalui surat ( 10 orang ) dan melalui hotline services ( 21 orang ).Pada tahun 2001,melalui surat ( 18 orang ) dan melalui hotline services ( 20 orang ).
Bagi masyarakat miskin,ketidakpuasan terhadap pelayanan kesehatan yang uruk di rumah sakit,sering kali diterima dengan pasrah.Orang miskin sering menjadi korban dari sistem kesehatan yang tidak adil dan diskriminatif.Sementara bagi orang kaya,ketidakpuasan atas pelayanan demikian ,sudah cukup memberi alasan untuk berobat ke dokter atau rumah sakit luar negeri yang jauh lebih mahal.Akibatnya,pertumbuhan perumahsakitan yang berlebel “Internasional” semakin menjamur diindonesia.Penelitian ini bertujuan mengetahui pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit pada masyarakat miskin dengan mengambil kasus di enam wilayah Indonesia.

Metode

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitiannya adalah masyarakat miskin sedang dan/atau pernah mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit.Penelitian dilakukan di rumah sakit atau pada penduduk yang berada di luar rumah sakit di enam wilayah terpilih pada tahun 2008.Lokasi penelitiannya meliputi Batam ( mewakili Indonesia bagian Barat ); Balikpapan dan Manado ( mewakili Indonesia bagian Tengah ); Jayapura ( mewakili Indonesia bagian Timur ); serta Jakarta dan Surabaya ( mewakili Kota di Pulau Jawa ).
Pengumpulan data dilakukan pada sampel secara purpositif accidental sampel meliputi pasien dan keluarganya yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu ( SKTM ) atau Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin ( Askeskin/Jamkesmas ).Mereka sedang mendapatkan pelayanan di rumah sakit atau penduduk yang berada di luar rumah sakit dan individu/keluarga yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu ( SKTM ) atau Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin.Mereka pernah mendapatkan pelayanan di rumah sakit yang kebetulan bertemu dengan peneliti dan dipandang cocok sebagai sumer data dienam wilayah terpilih.Jumlah sampel yang didapat dari Balikpapan (8),Batam (5),Jayapura (4),Manado (24),Surabaya (25),Jakarta Pusat (8),Jakarta Timur (11),Jakarta Barat (5),Jakarta Selatan (17) dan Jakarta Utara (16).Jumlah sampel yang didapat adalah 123 responden.
Data yang dikumpulkan berupa data primer yang didapat melalui wawancara dengan menggunakan instrumen kuesioner semi tertutup pada pasien/keluarganya yang memenuhi kriteria di enam wilayah terpilih.Pengolahan data dilakukan dengan membuat kategorisasi berdasarkan tipe rumah sakit ( Peerintah atau Swasta )dan unit-unit penyedia jasa layanan kesehatan yang ada ,lalu dilakukan analisis dan interpretasi.Analisis deskriptif digunakan untuk menguraikan berbagai pengalaman responden selama mendapatkan pelayanan di rumah sakit dan analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran distribusi responden dan berbagai unit penyedia jasa layanan kesehatan di rumah sakit. Analisis juga didukung oleh data sekunder dari surat kabar dan bahan-bahan kepustakaan lainnya.

Hasil

Secara umum responden penelitian ini terdiri dari 52,8 % laki-laki dan 47,2% perempuan,berumur kurang dari 30 tahun (42,3%),30-40 tahun (18,7%),41-50 tahun (19,5%) dan lebih dari 50 tahun (19,5%).Jenis pekerjaan responden meliputi pekerja tidak tetap (34,1%),ibu rumah tangga (21,1%) dan karyawan swasta (13,8%).Tingkat pendidikan responden didominasi oleh tamat SLTA (48,8%) diikuti tidak sekolah/tidak tamat SD (17,1%) dan tamat SD (14,6%),tamat SLTP (11,4%) tamat D3 (5,7%) dan tamat PT/S1 (2,4%).
Berdasarkan jenis rumah sakit yang digunakan,sekitar 83,7% responden sedang dan/atau pernah mendapatkan pelayanan dari RS pemerintah dan 16,3% responden sedang dan/atau pernah mendapatkan pelayanan RS Swasta.Mayoritas RS pemerintah tempat responden mendapat pelayanan kesehatan adalah tipe (76,7%),diikuti tipe A (13,6%),tipe C (8,7%),tipe D (1%).Sedangkan ,RS swasta tempat responden mendapat pelayanan kesehatan merupakan RS yang modalnya berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri ( PMDN ).Untuk rumah sakit pemerintah,mayoritas respondennya menggunakan Askeskin/Jamkesmas (50,5%) dan responden yang menggunakan SKTM ( 49,5%).Sedangkan di rumah sakit swasta mayoritas responden menggunakan SKTM (60%) dan Askeskin/Jamkesmas (40%).
Jenis pelayanan kesehatan yang terbanyak digunakan responden adalah yang masuk ke UGD berlanjut ke rawat inap 30,9%.Sedangkan responden yang langsung masuk ke rawat inap (28,5%) dan responden yang dirawat di fasilitas rawat inap dan berlanjut ke rawat jalan (18,7%).Untuk responden yang mengaku mendapatkan pelayanan rawat jalan kemudian rawat inap terdapat 6,5% dan responden yang mendapatkan pelayanan di UGD dan dilanjutkan ke rawat jalan (5,7%).Sementara,responden yang hanya mendapatkan pelayana kesehatan di rawat jalan masing-masing adalg 4,9%.Adapun tiga alasan tertinggi pemilihan tempat pelayanan kesehatan menurut responden,mayoritas karena lokasinya yang dekat dari rumah (28,5%),transportasi mudah dan murah (7,3%) dan saran dari keluarga (4,9%).

Pengalaman di Loket Pendaftaran

Selama diloket pendaftaran,responden yang menyatakan mempunyai pengalaman tidak menyenangkan di rumah sakit pemerintah berimbang dengan responden yang tidak mempunyai pengalaman tersebut masing-masing 50%.Sedangkan,untuk rumah sakit swasta responden yang menyatakan tidak berpengalaman yang tidak menyenangkan (52,9%) dan yang menyatakan pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan (47,1%).Dari responden yang mempunyai pengalaman tidak menyenangkan di rumah sakit pemerintah,konstibusi terbesar didapat dari pengalaman yang dipersulit ( 27,3%),diperlukan tidak adil atau dibedakan (21,8%) dan pengalaman penolakan (5,5%).Sedangkan,di rumah sakit swasta pengalaman tidak adil atau dibedakan (20%),dipersulit dan ditolak ( masing-masing 10%).
Apabila dilihat dari waktu yang diperlukan untuk menunggu diloket pendaftaran,mayoritas responden dirumah sakit pemerintah menyatakan bahwa mereka memerlukan lebih dari 30 menit untuk menunggu di loket pendaftaran (51,5%) sementara dirumah sakit swasta didapat 25%.Sedangkan,responden di rumah sakit swasta mayoritas mengatakan menghabiskan waktu 15-30 menit untuk menunggu di loket pendaftaran (40%),sementara di rumah sakit pemerintah 36,9%.
Apabila ditelusuri lebih lanjut,pada kedua jenis rumah sakit tersebut,ketidaktersediaan fasilitas pendukung seperti tempat fotokopi merupakan salah satu penyebab waktu di loket pendaftaran menjadi lebih lama.Akibatnya,pasien terpaksa keluar lingkungan rumah sakit untuk fotokopi.Hal tersebut tidak hanya terjadi pada pasien baru yang menggunakan asuransi tapi juga pada pasien lama.Selain itu,meskipun fasilitas mesin fotokopi sudah tersedia,jumlah yang harus dilayani tidak sebanding dengan jumlah mesin fotokopi yang ada.Padahal pada saat pendaftaran,untuk pasien-pasien yang menggunakan asuransi diharuskan menyertakan fotokopi surat-surat yang diperlukan.
Sistem pendaftaran dengan mengambil nomor urut dan menunggu dipanggil di loket serta tidak tersedia meja informasi yang secara aktif membantu para calon pasien yang akan mendaftar,juga menjadi salah satu penyebab lama waktu yang dihabiskan diloket pendaftaran.Karena tidak semua pasien sudah mempersiapkan syarat-syarat pendaftaran,akibatnya mereka harus melengkapi persyaratan yang kurang dan kembali menunggu di panggil.
Sehubung dengan informasi yang diterima responden selama diloket pendaftaran tentang ketersediaan fasilitas di rumah sakit,sebagai esar responden pada kedua jenis rumah sakit menyatakan tidak mendapatkan informasi yang cukup (53,7%).Responden di rumah sakit pemerintah lebih besar yang menyatakan tidak menerima informasi tentang fasilitas yang tersedia di rumah sakit ( 55,3% ) daripada responden di rumah sakit swasta (45%).

Pengalaman di unit Gawat Darurat ( UGD )

Berdasarkan hasil temuan di lapangan.responden yang memerlukan pelayanan UGD dikedua tipe rumah sakit mengatakan bahwa sebagaian besar tidak pernah mempunyai pengalaman ditolak (84%).Namun,apabila dilihat dari jenis rumah sakit,terdapat 20,7% responden di rumah sakit yang berpengalaman di tolak masuk UGD.Alasan penolakan sebagian besar karena tidak dapat membayar uang muka (21,4%) dan fasilitas pelayanan yang diperlukan tidak tersedia di rumah sakit tersebut (14,3%).Sementara,semua responden di rumah sakit swasta menyatakan tidak pernah mempunyai pengalaman di tolak masuk UGD.
Ketika di UGD sebagaian besar responden di rumah sakit pemerintah mendapatkan pelayanan setelah menunggu lebih dari 10 menit (38,6%) sedangkan responden di rumah sakit swasta sebagian besar akan mendapat pelayanan setelah menunggu 5 menit (100%).Sebagian besar responden di rumah sakit pemerintah maupun di rumah sakit swasta menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita (88%) maupun tindakan terlebih dahulu (64,3%).Sedangkan,responden yang berada di rumah sakit swasta didapat 29,4% yang menyatakan mendapatkan resep yang harus ditebus sebelum tindakan terlebih dahulu.

Pengalaman di Unit Rawat Jalan ( URJ )

Semua responden yang berada di rumah sakit pemerintah menghabiskan waktu lebih dari satu jam (49,2%) di ruang tunggu unit rawat jalan.Sementara,di rumah sakit swasta mayoritas waktu yang dihabiskan di ruang tunggu unit rawat jalan adalah kurang dari 30 menit (62,5%).Selama di unit rawat jalan,responden di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta sebagian besar mendapatkan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan (83,1%) dan tentang obat yang diberikan (73,6%).Responden di rumah sakit pemerintah menyatakan sebagain besar mendapatkan resep obat generik (61,1%),tetapi hanya 40% responden di rumah sakit swasta yang mendapatkan resep obat generik.
Berkaitan dengan pengalaman tidak menyenangkan selama di unit rawat jalan,sebagian besar responden di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan dari petugas rumah sakit (76,3%).Namun,responden dirumah sakit pemerintah yang pernah mendapatkan pengalam tidak menyenangkan akibat sikap petugas yang diskriminasi,pengalaman ditolak,apabila tidak diminta tidak semua resep obat generik,tidak semua obat yang diresepkan ditanggung asuransi sehingga harus membeli sendiri (masing-masing 1,9%),serta pelayanan tidak maksimal,persediaan sarana dan prasarana yang diperlukan seringkali habis/tidak tersedia dan pelayanan administrasi lambat (masing-masing 1%).Sedangkan,untuk responden yang berada di rumah sakit swasta,pengalaman tidak menyenagkan didapat dari sikap petugas yang kurang ramag (100%).
Atas perlakuan dan pengalaman yang tidak menyenagkan tersebut,bahwa sikap responden di rumah sakit pemerintah adalah diam saja (68,4%),marah-marah (21,1%) dan mengadu ke manajemen rumah sakit setempat (10,5%).Sementara,bagi responden yang berada di rumah sakit swasta mayoritas memilih sikap untuk diam saja (77,8%),diikuti oleh sikap marah-marah dan mengadu ke manajemen rumah sakit setempat (masing-masing 11,1%).

Sabtu, 04 Januari 2014

Kemarin pada tanggal 28 januari 2013 saya mengikuti pelantikan timkes tahap 3 yang diadakan di Taman Makan Pahlawan yang bertempat dijalan pahlawan. Saya dan rekan-rekan lainnya berkumpul dikampus seperti biasa untuk diberikan materi dan pengarahan sebelum pergi ke tempat tersebut. Sebelumnya kami mendengarkan materi dan sharing bersama teman-teman lainnya. Kami berangkat kesana sesudah melaksanakan solat magrib dan isya dulu dikampus setelah itu barulah saya dan rekan rekan pergi ke taman makam pahlawan sesuai kelompok .Kami pergi kesana dengan jalan kaki menelusuri rumah warga.disepanjang jalan kami bertemu dengan akang teteh panitia untuk melapor disetiap pos dan untuk menyebrang jalan agar dipandu oleh akang teteh panitia lainnya. Pada jam 00.30 saya memasuki kuburan yang ditemani hanya dengan lilin kecil untuk meneusuri kuburan dan disetiap pos kami harus lapor pada pos tersebut yang bertandakan pos yaitu adanya lilin dan terdapat botol obat nah ditempat tersebut kita harus mengambil 1 gulungan kertas dan tidak boleh hilang sampai pos terakhir.Disepanjang jalan banyak akang teteh panitia yang menakut nakuti kami dengan pakain putih putih yang menyerupai pocong. Didalam kuburannya pun kami ditanya tanya oleh panitia visi misi kalian mengikuti timkes itu apa .

Selasa, 31 Desember 2013

Acit Tinkerbell

Hai blogger ! kamu pasti bertanya-tanya kan kenapa title blog ini namanya "Acit Tinkerbell" ? Yups soalnya aku sukaaaa banget sama Tinkerbell. Sejak aku SMP sampai sekarang udah jadi calon Sarjana Kesehatan Masyarakat pun aku tetep fanatik sama tinkerbell :)
Kenapa ya aku suka sama Tinkerbell? Soalnya tinkerbell itu lucuuuu dan cantiik kaya aku :D haha please blogger jangan mual ya baca nya :P
Tapi yang perlu kamu tahu, walaupun aku suka Tinkerbell, blog ini gakkan aku penuhin sama Tinkerbell kok hhe
So, enjoy my blog ya blogger, See You !! :)